Jumat, 24 April 2015

“Love Paper” : Lika Liku percintaan dalam karya Eksperimental



Semua manusia pasti pernah merasakan cinta dan punya cerita serta pengalaman cinta masing-masing. Dari sekian banyak ekspresi serta cerita yang diciptakan dari segala keserbamungkinan yang bida dibuat oleh cinta, tak sedikit yang merasakan pengalaman “Manis diawal, asam dibelakang”. Awalnya menjalin cinta, sepasang sejoli saling memahami satu sama lain baik dan buruknya, plus dan minusnya. Bahkan penggalan lirik “All of me love all of you” yang dikutip dari lagu “All of Me” milik John Legend sangat mewakili apa yang mereka rasakan, apa yang mereka sebenarnya sedang toleransikan. Namun seiring berjalannya waktu dan seringnya bertemu, manis itupun perlahan memudar. Tingkat toleransi dan saling memahami-pun perlahan luntur. Dan segala janji pada awal hubungan tinggallah janji. Demikian sedikit yang setidaknya ingin dituturkan oleh “Love Paper”. Sebuah film pendek yang menggunakan cara yang cukup unik dalam menuturkan maknanya.

“LovePaper” berkisah tentang sepasang suami istri yang menjalani hubungan mereka dimana masa-masa manisnya cinta sudah mulai memudar. Diperlihatkan bagaimana mereka sudah mulai tak saling memahami serta tak saling toleransi lagi satu sama lain. Kepekaan antara mereka-pun meluntur terlihat dari tidak memahami keadaan pasangan masing-masing dan mulai hilangnya respect antara mereka. “Love Paper” merupakan love story dimana Kisahnya terasa umum namun cukup menyentil kehidupan dalam hubungan dewasa. Menyindir bahwa hubungan yang tidak lagi dilandaskan kepedulian satu sama lain akan berujung sebagai bencana.

Killers (2014)


Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel akhirnya “Rujuk” kembali!  The Mo Brother,Duet maut yang bertanggung jawab akan “lahirnya” film slasher yang membuat penontonnya “bersenang-senang” akan “pesta” literan darah serta serentetan adegan brutal nan mengerikan dalam “Rumah Dara” pada 2010 kembali meramaikan perfilman lokal setelah “absen” cukup lama sekitar 4 tahun. Kini The Mo Brothers kembali dengan salah satu film yang ditunggu-tunggu oleh penggemar film “sinting” Indonesia berjudul “Killers”.

Selama 4 tahun waktu “Pisah Ranjang” The Mo Brothers bukan tanpa bekas. Timo Tjahjanto pada tahun 2012 tergabung dengan 25 sutradara sinting di dunia dalam film “The ABCs Of Death” dalam segmen “sakit jiwa” L is Libido serta berduet dengan Gareth Evans (The Raid) dalam V/H/S 2 dalam segmen sakit jiwa yang mampu membuat jantung saya berdegup kencang serta pikiran saya terombang-ambing  (ini tidak berlebihan,coba saja sendiri) berjudul “Safe Haven”. Jam terbang serta rentetan filmografi Timo Tjahjanto dan Kimo Stanboel membuat wajar saja kalau “Killers begitu dinantikan dan membuat penggemarnya memiliki ekspetasi berlebih akan film ini.

Garuda (2015) : Lahirnya Superhero Lokal Baru Dengan Rasa Hollywood


Tak banyak cerita-cerita superhero lokal yang diangkat ke layar lebar. Mungkin film Indonesia bertemakan superhero yang paling diingat adalah “Gundala Putera Petir” karya Alm. Lilik Sudjio pada tahun 1981. Alasannya, tentu saja produser-produser sini sudah “jiper” duluan untuk bersaing dengan film superhero hollywood yang jelas lebih familiar di kalangan masyarakat seperti “Spiderman”, “Batman” dan kawan-kawannya. Terlebih tentu saja SDM dan teknologi yang dimiliki belum memadai untuk merealisasikannya agar terlihat “wah” layaknya film superhero di Hollywood. Maka dibutuhkan nyali yang cukup besar untuk memfilmkan kisah superhero di Indonesia sebagai “Idola” baru masyarakat. Hingga di awal 2015, “Garuda” hadir dan mendaulatkan diri sebagai film superhero pertama di Indonesia yang menggunakan teknik CGI (Computer Generated Imagenary).

Merry Riana : Mimpi Sejuta Dollar (2014) : Kisah “Terinspirasi” Dari Sosok Inspiratif


Mengangkat kisah tokoh bersejarah atau sosok yang dianggap sukses kedalam format film belakangan ini menjadi trend sendiri dalam perfilman Indonesia.Tak dipungkiri, nama besar mereka mempengaruhi dalam raihan jumlah penonton. Sebut saja di tahun 2014 ada kisah Likas Ginting dalam “3 Nafas Likas” dan Presiden Indonesia pertama Ir. Soekarno dalam film “Soekarno” yang bahkan dibuat extended Versionnya. Kisah sukses penuh motivasi menjadi sasaran empuk bagi produser film Indonesia untuk menarik penonton dan tentu saja meraup keuntungan dari  kecendrungan minat penonton film Indonesia yang suka disuguhi kisah kisah inspiratif dan “senang” dimotivasi.

Kali ini, MD Pictures mengangkat kisah biopik dari seorang motivator wanita yang cukup terkenal di Indonesia, Merry Riana. Nama Merry Riana mulai terkenal semenjak dia merilis buku “Mimpi Sejuta Dollar” yang ditulis oleh Alberthiene Endah yang  berkisah mengenai perjuangan  hidupnya dan pencapaian  meraih satu juta dollar pertamanya diumur 26 tahun. Buku tersebutlah yang menjadi inspirasi dalam film “Merry Riana : Mimpi Sejuta Dollar”.  

Comic 8 (2014)





Menyatukan 8 Comic (sebutan untuk pelaku stand up comedian) dalam satu film Action comedy? Bisa dibilang sebuah suguhan segar di kala penonton Indonesia terus-terusan suguhkan oleh genre yang itu-lagi-itu-lagi, comic 8 hadir sebagai “warna lain” dalam perfilman lokal.
Tak lain adalah Anggy Umbara, sosok dibalik film “Mama Cake” serta film yang cukup laris tahun lalu, “Coboy Junior The Movie” yang membawa 8 “Pelawak panggung” ini bersanding bersama dalam satu film. Anggy tahu betul kini Stand Up Comedy sedang berada dimasa jayanya dan Anggy-pun tahu bagaimana memanfaatkan hal tersebut. Memanfaatkan “aji mumpung” ini, Anggy menyuguhkan “Comic 8” sebuah film  bergenre Action Comedy yang bisa dibilang sangat jarang diperfilman lokal.

Premis “Comic 8” bisa dibilang unik. Delapan orang perampok yang dibagi dalam 3 komplotan rampok dengan kepentingan berbeda secara tidak sengaja “bersinggungan” diwaktu yang sama ketika mereka berniat merampok Bank INI. Ada Bintang, Fico, dan Babe, rampok amartir yang merampok demi merubah nasib harus bertemu dengan komplotan bertopeng joker (Anggy seperti ingin memparodikan adegan merampok bank yang dilakukan Joker di The Dark Knight) yang terlihat lebih professional yang terdiri dari Ernest,Kemal, dan Arie serta duo perampok “ajaib” Mongol dan Mudy. Selebihnya penonton akan disuguhkan kisah perampokan bank aneh dan kacau ini lengkap dengan hingar bingar suara senapan serta tentu saja kekonyolan-kekonyolan para rampok yang memancing gelak tawa penonton.